Dengarkan Kata Suami

Ini edisi mau curhat. Sedih yang nggak berujung. Pernahkah kamu merasakan, teman menjauhi kita hanya gara-gara uang? Iya, uang itu kehadirannya bisa membahagiakan tapi bisa menyedihkan. Semua bermula karena tak mendengarkan suami.

Ibu-ibu seperti saya ini susah nahan godaan beli barang. Suami bilang, sebaiknya nggak usah beli eh saya tetap saja beli. Dan belinya itu sama teman karena kegoda lihat teman lainnya beli. Tapi apa ujungnya? Ya, hubungan kami menjadi buruk. Apa sebabnya uang? Sepertinya begitu.

Ceritanya begini, berhubung saya nggak punya barang yang berhubungan dengan bakar-bakaran seperti itu, saya berniat beli. Kayaknya enak ya kalau punya. Sebut saja harganya Rp200ribu jika bayar tunai dengan batas tanggal yang ditentukan. Tapi, kalau nyicil bisa Rp500ribu. 

Nah, dilema donk. Tanggal batas akhir tanggal tua banget pas suami belum gajian. Tapi, tetep maksa beli dengan ucapan lihat nanti mau tunai apa nyicil, tergantung isi dompet. Inget ya isi dompet, karena pas tanggal itu isi tabungan sudah dipastikan sudah kosong, hihi… ngenes ya, tapi ya begitulah kondisinya 😀

 Tibalah tanggal yang ditentukan. Saya belum membayar, dari pagi saya menunda nanti-nanti saja karena keluar rumah malesnya minta ampun. Dan malamnya, pesan masuk ke ponsel saya dari teman saya itu. Teman saya menagih bayaran barang yang dia jual. Tumben-tumbenan dia manggilnya berbeda. Nah saat itu saya lagi mules, bolak balik ke toilet. 

Saya jawab donk “Bisa nggak besok pagi, jam berapa orang yang jualan mau ambil uang?” Eh katanya bsk pagi bener mau datang. Saya minta lagi, ” Ya sudah saya ke rumah pagi. ”
Tetep aja nggak bisa. Dia malah minta kalau nggak bisa tunai transfer aja. Tapi masa saya bilang tabungan saya kosong, hikss. Baiklah saya dengan kondisi mules-mules datang. Sejak itu teman saya mendiamkan saya.

Pelajaran buat saya, jangan malas kalau soal bayar membayar. Segera bayar atau Loe bakal dimusuhin meski temen sendiri, hihi.. Ini masalah uang. Teman bisa jadi lawan. 

Dan dengarkan perkataan suami, nggak usah kemakan bujukan dan nafsu semata. Akhirnya, saya dijauhi dan jadi bahan omongan ke teman-teman lain.

Kok cerita di blog sih? Pengen curhat aja, lagi sensi teringat sebegitunya kekuatan uang. Teman bisa jadi musuh tanpa peduli kondisi temannya. Bisa saja orang berpikiran, “Paling loe alasan aja biar nggak bayar.” 

Ingat, nggak semua kondisi seperti yang kita pikirkan. Bisa saja perkataan orang itu benar. Satu lagi, jangan samakan kondisi keuangan kita dengan orang lain. Kita ada belum tentu orang lain ada. 

Memang meski teman, bisnis tetap bisnis. Tapi, apa hanya karena alasan seperti itu pertemanan harus berakhir? 

Dunia pertemanan nggak sebatas masalah uang. Kita nggak bisa tebak hati dan isi kepala orang meski itu teman sendiri.

Jangan hanya uang menyakiti hati orang. Dunia berputar. Satu waktu kita bisa di atas, tapi lain waktu bisa saja yang di atas berada di bawah.
Sekian

Iklan

Menghargai Teman

Media sosial (medsos) mendekatkan teman yang jauh dan menjauhkan teman yang dekat. Itulah kenyataannya. 

Foto: Weknowyourdreamz.com

Teman itu ada bukan hanya di saat senang, tapi juga ada di saat kondisi sebaliknya. Teman itu saling menghargai dan menjaga perasaan. Jika ingin dihargai maka hargailah, jika tak ingin disakiti maka jangan coba-coba menyakiti.

Mulutmu harimaumu. Terkadang status sebagai teman membuat orang lupa mana candaan mana itu bully. Tapi status teman membuat bully-an akhirnya dimaklumi, tak ingin dimasukkan hati meski menyakitkan.

Diam, itulah solusi yang akhirnya dipilih saat tersakiti dan tak ingin menyakiti. Diam bukan selalu karena marah, tapi diam demi menjaga perasaan masing-masing agar tak ada candaan atau bully-an lain yang kebablasan, yang akhirnya salah satu mencoret teman dalam daftar pertemanan. Termasuk mencoretnya (baca: blokir) di medsos.

Hargailah dan sayangi temanmu sebagaimana kamu ingin dihargai dan disayangi.

Sekian…

Emoticon Bully

Aplikasi chat apa yang sering digunakan? Kayaknya yang paling banyak dipakai itu Whatsapp (WA), LINE, dan BBM. Pasti sering donk pakai emoticon buat menandakan bahagia, ketawa, atau sedih. Cuma jangan pakai emoticon yang bisa salah persepsi, nanti dianggap ngebully lho.

  
Emoticon yang paling jarang saya temui itu yang jempol kebawah, tapi kalau ada orang bercanda pakai emoticon begituan, adududu…ngerasa paling pintar sekali ya sampai berani meremehkan orang 😀 (Sensi bu…hehe)

Tapi ini konteksnya saat bercanda ke diri kita ya, bukan menilai sesuatu. Ini pendapat pribadi yaaa

Syukur-syukur orang yang dikirimin emoticon itu kebal dan cuek. Tapi, kalau kebalikannya bisa terjadilah perpecahan. Yakin orang itu bakal ngomong kalau tersinggung, kalau diam saja bagaimana?

Kalau gitu kejadiannya, sampai kapanpun kita nggak akan tahu dia nggak suka, tapi yang jelas sikapnya bakal berubah sama diri kita.

Hati-hati bersikap. Bercanda boleh, cuma lihat sikon (situasi dan kondisi) 🙂
Posted from WordPress for Android

Keinginan Ini Pasti Terwujud

Rasanya bener-bener nggak tega meninggalkan blog ini. Sesekali saya bakal memposting curhatan, hehehe.. Kali ini soal keinginan emak-emak yang kalap. Materi semua euy. Yang baca tahan diri ya, namanya juga keinginan 🙂

Pernah baca buku The Secret nggak? Saya agak-agak lupa sih isinya, tapi kalau nggak salah jika mempunyai keinginan yakinlah bahwa itu bisa tercapai agar alam semesta ikut ‘membantu’ mewujudkannya.

Maksudnya mungkin percaya, berdoa, dan berusaha. Semua bukannya tergantung Yang Maha Kuasakah?

Dulu saya punya bukunya, tapi kemana ya? Begini nih, baca buku kok jarang yang inget ya. Perasaan waktu zaman sekolah gampang banget ingetnya. Ehm…

Saya yang sehari-hari di rumah saja jadi suka berpikir kemana-mana. Apa yang bisa saya kerjakan selain menulis di waktu senggang. Saya pengen banget bisa memasak kue-kue enak dan bisa menjahit. Siapa tahu bisa dijadiin bisnis. Ini artinya saya punya keinginan punya kompor oven dan mesin jahit digital, hihi… 

Nggak kebanyakan tuh keinginannya? Nggak apa-apa kan kalau cita-cita tinggi asal siap dengan konsekuensinya, maksudnya jangan jadi patah semangat berdoa dan berusaha hanya karena keinginan belum tercapai. Bismillah… semangat!

Kenapa saya bercita-cita punya kompor oven? Pertama, setelah dipikir-pikir oven listrik boros listrik. Jadi saya pikir menabung agar mendapat kompor dengan harga lebih tinggi nggak apa-apa karena ovennya juga pakai gas, hehehe… kedua, kayaknya simple. Intinya sih, emang mupeng aja 😀

Tapi yakin nggak bakal masak-masa kalau punya kompor oven? Bismillah, semoga makin pintar masaknya 🙂

Lalu, saya mau mesin jahit. Minimal saya maunya yang portable. Tapi maunya sih yang digital. Kayaknya nggak ribet ya. Cuma pakai listrik juga. Adeeeeeh.

Untuk urusan memasak, saya termasuk yang baru belajar setelah menikah. Bahkan, aktif memasak baru saya lakukan setelah resmi menjadi ibu rumah tangga. Masakan juga seadanya dan yang penting gampang, belum mencoba yang tarafnya agak sulit. Maunya sih belajar bikin cake dan kue-kue kering. Tapi, itu harus ada oven.

Semoga Tuhan mendengar keinginan hambanya ini sehingga bisa memiliki kompor oven dan mesin jahit. Dan semoga saja semuanya saya dapat sebagai hadiah, jadi nggak beli.. Amin…amin… #teriakkencengdidalamhati
#doaemak